haFHDn8

a ficlet by junhxehoes21

starring Jeon Jungkook & Kim Taehyung

1249 words

“Hidup tidak semudah itu, ku beri tahu. Kau mau berjalan sendiri?”

Seisi kelas kosong. Kecuali tinggal seorang siswa bermarga Jeon yang masih betah mengulak-alik buku berlembar usang. Membaca ini dan itu, menyalin ini dan itu, merutuki tugas yang entah mengapa hanya ia seorang yang peduli.

Pukul 05.12 (sore), begitu jam berkata. Ia ingin menyudahi, ia ingin sekali. Pulang kerumah, membersihkan diri, makan, nonton—oh, rasanya yang terakhir itu tidak perlu dikerjakan, membuang waktu saja—pikirnya. Ia segera menggelengkan kepala, no pain no gain.

Sedetik kemudian, akibat sekolah yang hampir sedikit lagi kosong, ia mendengar ada langkah kaki yang mendekat. Matanya teralihkan ke arah pintu, dan pandangannya berhenti.

“Jung, mau balik?” tanyanya, bersender dipinggir pintu kelas.

Siswa yang dipanggil Jung itu cuma menghela nafas. “Belum selesai, aku disini setengah jam lagi. Kalau mau duluan, duluan saja sana,” lalu kembali mengerjakan.

Siswa yang tadi bersender di pinggir pintu kelas itupun berjalan menuju meja Jung. Ia duduk di atas meja disamping meja itu. Jung sama sekali tidak merasa terganggu—atau lebih tepatnya, tidak memberi  tanggapan berarti kepada temannya itu, iya, teman.

“Aduh, tugas kelompok,” sindirnya, “Apa tugas individu?”

Jung tidak peduli, tidak boleh peduli. Kalau mau, ia bisa membalas kata-kata temannya. Tapi, itu cuma buang-buang waktu dan yang terpenting saat ini adalah tugasnya.

“Jung, mau kuberitahu sesuatu?”  tanya temannya itu.

Jung tidak menjawab. Menggelengkan kepala atau mengangguk sekedar mengganti iya atau tidak pun juga tidak dilakukannya. Tugas adalah yang terpenting.

Tapi, Jung menghela nafas.

“Jung, Jeon Jungkook. Kau itu pintar, paham?”

Tapi, Jung menghela nafas.

Ah, entah kenapa pensilnya patah.

“Taehyung, kalau kau lelah menunggu, sudah kubilang pulang saja duluan.”

Jungkook lagi-lagi kembali mengerjakan tugasnya. Dan Taehyung seperti biasa mengambil plan B—tutup mulut. Moodnya pasti sedang tidak baik—pikirnya.

Taehyung hanya ingin berkata jika Jung memang pintar, cerdas, lebih lebih dari dirinya. Cuma sekedar pujian, atau cara melobby siswa bermarga Jeon itu agar santai sedikit. Tapi, tidak mungkin. Laki-laki itu pernah bilang padanya, tugas bukan segalanya, tapi tugas itu adalah yang terpenting, ulangan itu yang terpenting, dan nilai di rapornya juga adalah yang terpenting. Menjadi juara kelas dan dicintai guru juga hal yang penting.

Selalu begitu, seenaknya sendiri, selalu merasa mampu sendiri.

Bagitu banyak yang Taehyung pertimbangkan sambil melihat Jungkook yang semangat—ya, semangat—mengerjakan tugasnya. You’re not in the mood for talking with me, aren’t you? Guess, i’ll just leave you, probably.

 “Ini, bubble tea kalau kau haus. Aku pulang duluan. See ya,”

“Yasudah sana, hati-hati.” Kata Jung sebelum laki-laki itu meninggalkan pintu.

“Kau yang hati-hati, Jeon Jungkook. Kau mau berjalan sendiri?” lalu diakhiri dengan tawa.

Dan akhirnya Taehyung benar-benar hilang meninggalkan pintu. Jung tidak menyesal, malah kesal dengan temannya itu. Teman macam apa, menunggu saja tidak bisa! Dibiarkan pulang sendiri dengan bubble tea. Kim Taehyung memang tidak dewasa, padahal usianya lebih tua dari Jung. Lalu diakhir kepergiannya malah membuang tawa. Teman macam apa?

Jung semakin kesal dan semakin cepat ia menuliskan apapun di lembar tugasnya. Diakhiri dengan sebuah titik dan membubuhkan  nama teman-temannya—yang seolah ikut berkontribusi pada lembaran tugasnya padahal keringatnya lah yang bertetesan disana.

“Dasar tugas! Dasar sekolah di desa, mana cukup membaca buku yang hanya segini? Dasar teman! Dasar Taehyung!”

Jungkook menyalahkan segalanya—kecuali dirinya. Sedangkan di ujung sana sudah terlalu gelap untuk melihat matahari yang tenggelam. Kenapa ia tidak menahan temannya untuk sekedar menemaninya berjalan pulang kerumah saat gelap begini?

Tidak butuh Taehyung, aku bisa sendiri.

-Breathe-

Hitam, gelap. Cuma itu yang bisa Jungkook deskripsikan. Bukan—ia sama sekali tidak takut. Jung sudah sering pulang sendiri, meskipun tidak segelap ini. Kenapa? Karena seharusnya ada teman yang menemaninya, meskipun sedikit, meskipun hanya satu orang? Mungkin Joshua, Yoongi Hyung, Donghyuk, atau Taehyung?

Tapi rupanya, Jung sedang tidak ingin memikirkan beban-bebannya hari ini. Cuma ingin pulang, membersihkan diri, makan, dan ya kalau bisa lalu tidur meskipun tidak mungkin—Jung tertawa dalam hati. Sekali lagi, no pain no gain.

Jung menghela nafas, mengeluarkan serta keletihannya, Iya, Jung letih. Juga letih melewati jalan desa yang lebar yang menghubungkan rumahnya dan sekolahnya. Entah kenapa, jalannya jauh sekali. Ingin berhenti, tapi kapan sampai?—pikir Jung. Dan daerah yang sekarang ia lalui pun masih banyak pohon, mau berhenti dimana?

Juga tak tahu kenapa, bau amis?

Sebentar, bau amis?

Ah, Aku mau berhenti saja.

 

 

“Hidup tidak semudah itu, ku beri tahu. Kau mau berjalan sendiri?”

Siapa?

Suara itu membangunkannya.

Butuh beberapa detik untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya, dan mengambil sebuah kesimpulan kalau orang yang sekarang berada didepannya ini…

Taehyung.

“Tadinya mau ke rumah Yeri, terus aku lihat ada yang tergeletak di pinggir jalan. Ternyata manusia, dan ternyata, dasar Jeon Jungkook.” Kata Taehyung yang kalau boleh jujur—sedikit membual.

Sialan dia.

Jung diam, tidak akan meledakkan semua kata kutukan di dalam dadanya.

“Ayo, berdiri. Kau selalu bilang kalau selalu bisa sendiri, kan? Apalagi kalau ditambah satu orang—denganku, pasti kau bisa, Jung. Jangan lemah begini.”

Jung menghela nafas.

Entah sejak kapan Taehyung membantunya berdiri, dan membersihkan viltrumnya yang berlumuran darah—sepertinya bau amis berasal dari sini—karena Jungkook mimisan.

“Sialan,” katanya

“Apa? Nanti saja marah-marahnya. “ kata Taehyung sambil terus menemani Jungkook.

Taehyung hanya memberinya selembar sapu tangan yang biasa ia bawa untuk mebersihkan darah yang bercucuran. Keadaan Jungkook tidak begitu parah, hanya mimisan. Tapi, kalau berulang kali terjadi…

“Jung, mau ku beri tahu sesuatu?”

“Hm?” kata Jungkook berdehem pelan.

“Kau itu pintar, paham?”

“Kau selalu berkata begitu.”

“Bukan, bukan itu.”

Taehyung berpikir—ya, sebut saja ia tidak lebih pintar dari Jung makanya harus berpikir sebelum bicara—bagaimana caranya menjelaskan apa yang ia ingin beritahu kepada Jung.

“Taehyung?”

“Apa?”

“Bawain tasku ya, berat.”

“Iya, iya.”

Jungkook menghela nafas. Tidak ada percakapan berarti antara ia dan Taehyung. Ah, yang penting hidungnya sudah bersih sekarang.

Taehyung membawa tas Jungkook yang berat—sejujurnya, sangat berat. Jung selalu membawa peralatan sekolahnya dengan lengkap, dan buku-buku yang lengkap juga. Bahkan kalau merasa masih kurangpun membawa buku lain untuk tambahan referensi.

Kali ini, Taehyung yang menghela nafas.

“Jung,”

“Apa?”

“Jung, kau itu sudah berusaha keras.”

“Iya, tahu.”

“Jung, kata pepatah, kalau ingin berjalan cepat jalanlah sendiri. Tapi, kalau kau ingin berjalan lebih jauh, harus bersama-sama.”

Jungkook berhenti.

“Aku bisa sendiri.”

Taehyung menghela nafas, menepuk pundak Jung.

“Jangan mengerjakan tugas sendirian.” Mulainya, “ Aku saja yang tidak lebih darimu santai saja. Kau belum mendapatkan seperempat abadmu dan tubuhmu selelah ini, prinsipmu berantakan, selalu bisa sendiri katamu? Apanya? Berjalan sendiripun terjatuh, mimisan, di pinggir jalan. Kalau hujan bagaimana? Kau itu punya teman, ajak teman-temanmu. Percayalah pada mereka. Tunggu, dan di atas langit masih ada langit, Jung. Kau tahu, kan? Jangan berjalan sendiri. Berjalanlah bersama-sama.”

Tapi, Taehyung…

Jungkook seakan tak percaya.

“Jung, bernafaslah, kau sudah bekerja keras.”

Jungkook kembali berjalan.

Admit it, nothing that Taehyung said is wrong.

Lalu, tidak ada tanggapan (atau lebih tepatnya rutukan) yang keluar dari mulut Jung. Bahkan sampai Taehyung mengantarkan Jung dengan selamat ke rumahnya. Jung tidak berkata apapun, ia ingin segera masuk ke dalam rumahnya—niatnya begitu. Sebenarnya tidak bicara apa-apa pada Taehyung pun bukan masalah, karena rumah Taehyung memang melewati rumahnya.

Tapi, Jungkook merasa ia harusnya berterimakasih. Teman macam apa ia?

“Hyung, tugas kelompok selanjutnya akan kukerjakan bersama teman-teman.”

Jungkook tiba-tiba jadi sopan, Hyung?

Dan Taehyung hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia pergi karena Jung sudah menutup pintu—yang sepertinya tidak jadi mengucapkan terimakasih dan Taehyung sudah biasa dengan itu.

Taehyung memasukkan tangannya ke saku celana karena udara yang dingin.

 “Padahal kalau capek bilang saja, Jung. Dasar Jeon Jungkook.”

Taehyung menghela nafas.

 

-FIN-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s